Pantai Biduk-Biduk, Keindahan Pantai Tak Berujung

TrubusTravel
Hernawan Nugroho
24 Okt 2019   10:30 WIB

Komentar
Pantai Biduk-Biduk, Keindahan Pantai Tak Berujung

Keindahan pantai Biduk-biduk (piknikyuk)

Trubus.id -- Sekitar 241 km dari Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, terbentang pantai berpasir putih bagai pantai tak berujung bernama Pantai Biduk-Biduk. Biduk-Biduk berasal dari bahasa Bugis artinya “tempat yang banyak disinggahi kapal-kapal Nelayan”. Dilansir dari laman PiknikYuk, konon, sejarahnya berawal dari seorang puteri  dari Filipina yang menikahi orang Bugis bernama Mahmude yang bermukim di Pulau Kaniungan. Mereka dikaruniai anak bernama Kalla.

Baca Lainnya : Lima Wisata di Tarakan yang Sayang Dilewatkan

Pada 1909, Kalla mencari nelayannya yang belum juga pulang. Di suatu tempat dia menemukan ramainya kapal-kapal yang singgah dengan tempat strategis dan pemandangan yang indah. Hal itu membuat Kalla dan keluarganya pindah ke Biduk-biduk pada 1912. Mahmude kemudian menjadi kepala kampung  dan sejak saat itu perekonomian kampung menjadi meningkat . Kalla menjadi orang berpengaruh. Pada tahun 1954-1980, Mulia Pute menjabat kepala desa dan berhasil menjadikan Biduk-Biduk sebagai Desa Teladan.

(foto: piknikyuk)

Untuk mencapai Pantai Biduk-Biduk, bisa mulai dari Tanjung Redeb, lalu dilanjutkan perjalanan  darat selama 4 Jam, bisa menggunakan kendaraan pribadi atau taxi dengan tarif Rp. 150.000,- /orang. Sementara jalut laut bisa melalui Dermaga Tanjung Batu, sekitar 2 jam dari bandara Kalimarau. Dari Tanjung Batu ke Derawan sekitar 2 jam, lalu dilanjutkan ke Pantai Biduk-Biduk selama seharian  perjalanan laut dengan menyewa kapal atau bisa juga mengambil paket wisata berkapasitas 8 hingga 20 orang.

Posisi geografisnya memungkinkan pelancong menikmati matahari terbit hingga terbenam. Itulah sebabnya Biduk-Biduk terkenal dengan sebutan Pesona Matahari Terbit. Pantai dengan pasir putihnya begitu panjang membentang seakan tanpa batas, nyiur kelapa berbaris berjajar mengikuti alur pantai. Ada keajaiban lain di pantai ini, di antara Sungai Serai dan Tanjung Perepat tumbuh sebatang pohon Kelapa yang melintir seperti ular yang meliuk-liuk.

(foto: piknikyuk)

Selain keindahan matahari terbit, kita dapat menemukan Danau Si Gending, hutan dan pegunungan Teluk Sumbang, dan Air Terjun Bidadari. Dari Teluk Sulaiman bisa berperahu atau ber-speedboat menuju Pulau Kaniungan melewati area habitat penyu hijau. Jika beruntung, setiap pagi saat mereka mencari makan, ratusan penyu hijau tampak  bergerombol di permukaan laut. Dan setiap sore bekantan berjemur di hutan bakau.

Baca Lainnya : Dukung Jadi Wisata Kelas Dunia, Kalteng Didorong Fokus Sektor Ekowisata

Terlalu banyak keindahan untuk dilewatkan disini. Tak cukup sehari untuk menikmatinya. Salah satu penginapan yang saya rekomendasikan adalah Resort Batu Berdiri di teluk Sumbang yang berdampingan dengan Teluk Sulaiman. Tempat ini siap memanjakan wisatawan dengan fasilitas akomodasinya. Bagian depan resortnya tampak  dari Pulau Kaniungan  dan mengarah persis ke depan pulau dan ke arah gunung. Kita bisa berpuas-puas snorkeling atau  menyewa perahu kayak untuk mengelilingi pulau. Jangan lupa nikmati kuliner ikan bakar  dan es kelapa muda segar saat melepas lelah.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Bukit Kuneer, Favorit Baru di Kota Malang

Destinasi   08 Nov 2019 - 16:20 WIB
Bagikan: