Tak Ada Dendam dalam Caci di Flores

TrubusTravel
Hernawan Nugroho
29 Agu 2019   14:30 WIB

Komentar
Tak Ada Dendam dalam Caci di Flores

Tarian perang yang penuh sportivitas (gettyimages)

Trubus.id -- Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur tidak hanya dikenal dengan pesona alam yang menawan, tetapi juga kesenian tradisionalnya. Salah satu yang kesenian yang paling menonjol adalah Tari Caci.

Berbeda dengan tarian daerah pada umumnya, Tari Caci hanya melibatkan dua penari laki-laki. Gerakan yang ditampilkan berupa sebuah pertarungan menggunakan cambuk serta perisai sebagai senjata.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Wayan Darmawa, kepada Berita Flores, tari Caci ini berawal dari tradisi masyarakat Manggaraidimana para laki-laki saling bertarung satu lawan satu untuk menguji keberanian dan ketangkasan mereka dalam bertarung. Tarian ini kemudian berkembang menjadi sebuah kesenian dimana terdapat gerak tari, lagu dan musik pengiring untuk memeriahkan acara.

Baca Lainnya : Mendorong Pengembangan Ekowisata Sebagai Daya Tarik Danau Toba

Nama Tari Caci sendiri berasal dari kata “ca” berarti “satu” dan “ci” yang berarti “uji”. Sehingga caci dapat diartikan sebagai uji ketangkasan satu lawan satu.

Sambil menyanyikan lagu adat, kedua penari bakal saling pamer gerakan maju mundur layaknya Capoeira dari Brasil. Saat aba-aba di lepas, salah satu dari keduanya bakal menyerang dengan cambuk.

Tapi tenang, Tari Caci punya aturan tersendiri, lho. Salah satunya para pemain hanya boleh memukul bagian tubuh atas seperti lengan, punggung dan dada. Sehingga, sportivitas tinggi adalah hal yang ditunjukan lewat tarian ini.

Semua tetap bersaudara, tak ada dendam meskipun tariannya tergolong agak "keras" (foto: Berita Flores)

Nggak cuma soal menyerang, Tari Caci menuntut penarinya memiliki teknik yang sempurna buat menangkis, lho. Sehingga, ketika cambuk melayang, tubuh nggak akan meninggalkan luka perih.

Layaknya pertarungan pada umumnya, ada yang kalah dan ada juga yang menang. Nah, pemain bertahan bakal dinyatakan kalah apabila cambuk mengenai matanya, jadi nggak heran setiap penari bakal mengenakan penutup mata sebelah untuk melindungi.

Sudah ada sejak Kerajaan Manggarai berkuasa di Pulau Flores, Tari Caci punya makna yang cukup mendalam, membuktikan kejantanan baik dari segi keberanian maupun ketangkasan para laki-laki. Sehingga, latihan ekstra dibutuhkan guna menguasai teknik demi teknik Tari Caci.

Tari Caci sering dibawakan saat syukuran musim panen atau upacara adat lainnya. Namun, sekarang Trubus Mania dapat menikmati Caci kapan saja karena di beberapa desa wisata Flores, tarian itu disungguhkan untuk menyambut tamu kehormatan.

Baca Lainnya : Upacara Yadnya Kasada Daya Tarik Kuat Wisatawan ke Bromo

Sebagaimana fungsinya, tarian ini merupakan media bagi para laki-laki Manggarai dalam membuktikan kejantanan mereka, baik dalam segi keberanian maupun ketangkasan.

Walaupun terkandung unsur kekerasan didalamnya, kesenian ini memiliki pesan damai di dalamnya seperti semangat sportivitas, saling menghormati, dan diselesaikan tanpa dendam diantara mereka. Hal inilah yang menunjukan bahwa mereka memiliki semangat dan jiwa kepahlawanan di dalam diri mereka. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Bukit Kuneer, Favorit Baru di Kota Malang

Destinasi   08 Nov 2019 - 16:20 WIB
Bagikan: