Bakar Batu, Simbol Kebersamaan Masyarakat Papua

TrubusTravel
Hernawan Nugroho | Followers 0
21 Agu 2019   17:30

Komentar
Bakar Batu, Simbol Kebersamaan Masyarakat Papua

Bakar batu diselenggarakan sebagai wujud kebersamaan semua warga masyarakat lintas suku di Papua (Foto : Kabar Papua)

Trubus.id -- Pernahkah Trubus Mania mendengar tentang tradisi bakar batu? Dalam bahasa Lani, bakar batu disebut lago lakwiyang memiliki arti membakar segala jenis makanan dengan menggunakan batu. Di Wamena, bakar batu lebih dikenal dengan sebutan kit oba isago, sedangkan di Paniai disebut dengan mogo gapil. Sementara di masyarakat umum, bakar batu lebih dikenal dengan istilah barapen.

Bagaimana ritual asal mula bakar batu? Menurut Saulus Narek, Kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Tolikara, Papua, kepada Antara, tradisi unik ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Bermula dari pasangan suami istri yang merasa bingung ketika hendak mengolah hasil kebun. Hal tersebut terjadi lantaran panci yang biasa digunakan tidak ada. Setelah berpikir panjang, tercetuslah ide untuk memasak menggunakan batu. Tak disangka hasil masakan dengan metode tersebut jauh lebih lezat. Makanan yang dimasak pun semakin bervariasi, tidak hanya umbi-umbian saja, tetapi juga daging-dagingan.

Baca Lainnya : Mau Merasakan Sensasi Salju Abadi Pegunungan Papua Tanpa Mendaki? Begini Caranya

Tujuan orang Papua menggelar bakar batu pun beragam. Ada yang merupakan ungkapan rasa syukur atas berkat yang melimpah, menyambut kelahiran, merayakan pernikahan, meresmikan bangunan baru, juga menyambut kedatangan tamu. 

Bakar batu juga digelar untuk mengumpulkan prajurit sebelum berperang, merayakan kemenangan atas perang antar suku, memulihkan keharmonisan antarmanusia akibat peperangan atau kematian, serta ungkapan saling memaafkan. Bakar batu pun digelar untuk memberikan penghormatan terakhir bagi anggota keluarga yang meninggal.

Berdasarkan wilayah, setidaknya ada dua wilayah besar di Papua yang menggelar tradisi bakar batu meskipun dengan cara yang sedikit berbeda. Yaitu wilayah Papua Tengah atau La Pago dan wilayah Papua Timur atau Ma Pago. Wilayah La Pago antara lain meliputi Puncak Jaya, Tolikara, Paniai, Nabire Pedalaman. 

Bentuk "tungku" batu bisa berbeda-beda , namun fungsi dan ritualnya sama (Foto: Antara)

Sementara kawasan Ma Pago seperti Pegunungan Bintang dan Wamena. Perbedaan terletak dari bentuk lubang di tanah untuk membakar batu. "Di Ma Pago lubangnya memanjang. Kalau La Pago bentuk lubang bulat. Tapi cara memasaknya sama," kata Saulus.

Bakar batu diawali dengan proses persiapan dimulai sejak pagi buta. Kepala suku yang mengenakan pakaian adat Papua berkeliling untuk mengundang warganya secara langsung.

Menjelang siang, perburuan pun dilaksanakan. Konon, jika panah berhasil melumpuhkan hewan buruan, maka acara akan berlangsung lancar. Sebaliknya, jika hewan yang dipanah masih hidup berarti acara akan mengalami kendala.

  1


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Cindy Tanaka 21 Agu 2019 - 13:10

permisi ya mau numpang promosi bo kelinci99 silahkan kunjungi WWWoKELINCIPOKER99oME

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: