Cinta Alam, Jumlah Millenial yang Hobi Camping Makin Meningkat

TrubusTravel
Thomas Aquinus
16 Juli 2019   15:00 WIB

Komentar
Cinta Alam, Jumlah Millenial yang Hobi Camping Makin Meningkat

Ilustrasi (Camping Advice)

Trubus.id -- Camping is always  cool! Setuju, enggak? Namun sayang ini tak selalu jadi hiburan favorit di kalangan anak muda, setidaknya pada dekade lalu. Menurut North American Camping Report 2019, yang disponsori oleh Kampgrounds of America, ternyata ada lebih banyak generasi millenial dan Gen X yang cenderung mengidentifikasi diri mereka sebagai penggemar kemah sejati, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penelitian, yang dimulai pada 2014 ini dilakukan melalui survei di Amerika Serikat dan Kanada. Bagaimana dengan Indonesia? 

Melansir Matador Network, persentase orang Amerika Utara yang berkemah tiga kali atau lebih per tahun telah meningkat sebesar 72 persen sejak 2014, menambah sekitar 7 juta lebih keluarga berkemah (keluarga dengan anak-anak di bawah 18 tahun) ke perkemahan Kanada dan Amerika. Camper yang lebih muda juga membantu meningkatkan popularitas hiking dan backpacking saat mereka berkemah, menurut laporan itu.

Sementara mayoritas berkemah memilih pendekatan tradisional (tidur di tenda), ada lebih banyak millenial memilih untuk berkemah di kabin dan RV, sebaliknya, 14 persen menggunakan kabin pada 2016 dan 21 persen pada 2018. Studi ini juga menemukan bahwa berkemah lebih beragam dari sebelumnya. Dari 1,4 juta keluarga yang pergi berkemah untuk pertama kalinya pada tahun 2018, 56 persen adalah millenial. Untuk pertama kalinya sejak 2014 (ketika penelitian dimulai), persentase peserta non-kulit putih pertama kali melebihi persentase peserta berkemah baru yang diidentifikasi sebagai Kaukasia.

Camping nan Glamor

Ilustrasi glamping (Big Cedar) 
Lalu, bicara soal "glamping” yang trendi, semua kelompok umur menunjukkan minat. Khususnya di millenial, 50 persen di antaranya mengatakan mereka tertarik untuk glamping pada 2018 dan 25 persen mengatakan mereka ingin mencobanya pada 2017. Glamping mengacu pada akomodasi berkemah yang unik yang sering kali mencakup layanan yang disempurnakan seperti yurt mewah, tempat tidur berukuran besar, spa dan bahkan koki pribadi. Beberapa perusahaan glamping bahkan telah dipuji karena memberikan alternatif ramah lingkungan untuk akomodasi hotel atau resor tradisional. Banyak yang memanfaatkan makanan yang bersumber secara lokal, toilet kompos, dan tenaga surya untuk memberikan kesempatan kepada para tamu mereka untuk terhubung dengan alam sambil tetap memiliki akses ke kenyamanan yang biasa mereka gunakan.

Di Indonesia, terutama di daerah dataran tinggi seperti kawasan Puncak atau Bandung, glamping bahkan masih populer sejak sekitar 4 tahun terakhir. Selain tidak harus meninggalkan kenyamanan, millenial yang mayoritas pemburu selfie ini juga berlomba-lomba eksis dengan berlatarkan suasana camping nan glamor. Yes, glamping itself

Camping ala Van Life

Ilustrasi van life (Parked In Paradise) 
Hal yang sama berlaku untuk "van life," gaya hidup berkemah yang menggunakan van kemping (camper van) yang telah diubah sedemikian rupa demi kenyamanan, atau kendaraan bermotor kelas B, yang bertentangan dengan RV atau tenda. Tujuan utamanya adalah untuk dengan mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa harus membongkar tenda atau menemukan sumber daya listrik untuk RV. Jumlah millenial yang ingin mengalami kehidupan dalam van bergeser sekitar 4 persen antara tahun 2017 dan 2018. Mereka yang hidup dalam van life “memperdagangkan” kenyamanan dan ruang modern untuk kesempatan sedekat mungkin dengan alam selama menjalani gaya hidup minimalis. Beberapa selebritas Indonesia bahkan sudah ada yang mencobanya, liburan gaya van life. Sebut saja Ayudia Bing Slamet atau Rahung Nasution. 

Berkemah Karena Cinta Alam 

Camping (Camping Advice) 
Jadi apa yang membuat lonjakan minat berkemah? Sebanyak 30 persen generasi millenial mengatakan bahwa peristiwa besar dalam kehidupan seperti memiliki anak berdampak pada keinginan mereka untuk berkemah lebih banyak, sementara 30 persen lainnya mengatakan bahwa kemampuan untuk melihat orang lain bepergian dan menjelajahi tujuan populer (thank you, social media) membuat mereka ingin menghabiskan lebih banyak waktu berkemah.

Yang lebih menggembirakan lagi, separuh dari banyak orang yang berkemah mengatakan bahwa "kecintaan terhadap alam bebas" pertama kali memicu minat mereka pada berkemah, yang berarti bahwa lebih banyak orang Amerika Utara yang mencintai perkemahan mulai menghargai alam bahkan lebih dari sebelumnya — pertanda baik untuk taman nasional kita, dan planet ini secara keseluruhan. Hopefully! 

Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian, menghabiskan sedikitnya dua jam di alam dapat meningkatkan kesehatan mental, dan berkemah menawarkan kesempatan untuk terhubung dengan alam dengan manfaat tambahan dari mencabut kabel internet dan perangkat elektronik. Selain itu, kegiatan seperti hiking yang sering disertai berkemah memberikan latihan yang baik, bahkan mendirikan tenda dan pancang juga dihitung!

Sejak penelitian dimulai pada 2014, jumlah orang Amerika Utara yang berniat untuk berkemah lebih banyak hampir dua kali lipat. Kelompok-kelompok yang paling optimis tentang masa depan berkemah mereka adalah keluarga dan millenial, karena 61 persen milenial mengatakan bahwa mereka berencana untuk berkemah lebih banyak pada 2019.

Tidak dapat disangkal, masa depan berkemah terlihat cerah. Jadi, jika Trubus Mania berada di salah satu keluarga yang tumbuh dewasa yang melakukan perjalanan berkemah tahunan, anggap saja kamu beruntung. You’re already ahead of the pack! [NN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Kebun Teh Gunung Dempo yang Menyejukkan Mata

Destinasi   13 Des 2019 - 11:05 WIB
Bagikan:          

Menyusuri Danau Tertinggi di Asia Tenggara, Gunung Tujuh

Destinasi   06 Des 2019 - 17:13 WIB
Bagikan: