Habitat Orangutan di Tanjung Puting Sedot 18.834 Wisman pada 2018, Terbanyak Asal Spanyol

TrubusTravel
Binsar Marulitua | Followers 0
27 Juni 2019   07:00

Komentar
Habitat Orangutan di Tanjung Puting Sedot 18.834 Wisman pada 2018, Terbanyak Asal Spanyol

Bayi Orangutan di pusat rehabiitasi Orangutan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Peran konservasi dalam kawasan tersebut mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar dengan jumlah kunjungan wisatawan , baik domestik maupun mancanegara. (Foto : Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kalimantan Tengah lebih didominasi wisatawan mancanegara (wisman). Angka tahun 2018 menunjukan, jumlah wisman yang berkunjung ke TNTP mencapai angka 18.834 orang, lebih tinggi dari wisatawan domestik yang hanya 10.449 orang.

"Dari kunjungan ini TNTP dapat menyumbangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) kepada negara sebesar 7,77 milyar pada tahun 2018," jelas Kepala Balai TNTP, Helmi di Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, dalam keterangan tertulis, Rabu (26/6/2019).

Helmi menturkan Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke TNTP berasal dari berbagai negara di Benua Eropa dan Amerika, seperti yang dominan berasal dari Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Italia, Kanada, New Zeland, Polandia, dan Spanyol. 

"Untuk kunjungan tertinggi berasal dari wisatawan asal Spanyol," tambahnya. 

Baca Lainnya : Jepang Akan Kembali Berburu Paus untuk Tujuan Komersial

Ia menjelaskan wisata alam yang ada di TNTP lokasi sangat baik untuk melihat habitat alami Orangutan. Berdasarkan data inventarisasi satwa Balai Taman Nasional Tanjung Puting tahun 2016 luas kawasan ini  sebesar  415.040 ha dihuni sekitar 917 ekor Orangutan.

Wisata alam TNTP ini telah membangun bisnis wisata yang cukup besar yang ditandai dengan tumbuhnya para pelaku pariwisata, yang antara lain adalah 22 Agen Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA)/Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia, 127 Guide yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), 96 Unit pengusaha kapal klotok wisata, 20 unit pemilik speedboat, dan 80 orang tenaga pemasak terlatih yang tergabung dalam Tourist Cook Association (TCA) Kota Waringin Barat.

"Pelaku wisata di TNTP semakin meningkat, seperti pengelolaan perahu kelotok dan tenaga pemasak," jelas Helmi.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat,KLHK, Djati Witjaksono mengatakan jika keberadaan TNTP sangat penting terutama untuk konservasi Orang utan yang merupakan spesies langka dan terancam punah.

"TNTP adalah rumah untuk satwa dilindungi seperti Orang utan, Bekantan dan Lutung. TNTP juga merupakan pusat rehabilitasi Orangutan pertama di Indonesia", ujar Djati 

Djati menambahkan bahwa untuk mendukung fungsi Konservasi, pemerintah telah memiliki sekitar 500 kawasan konservasi alam yang tersebar diseluruh Indonesia. Kawasan konservasi alam tersebut terbagi menjadi beberapa bentuk seperti: cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya, dan taman buru. Untuk taman nasional sendiri saat ini ada 56 di seluruh Indonesia.

Baca Lainnya : Lagi, 51 Paus Pilot Ditemukan Mati di Selandia Baru

TNTP dengan hutan rawa air tawar dan hutan bakaunya juga merupakan wilayah yang ditetapkan sebagai Ramsar Site, yaitu kawasan-kawasan yang ditetapkan untuk melindungi kelestarian dan fungsi lahan basah di dunia.

Penetapan Ramsar Site ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Indonesia atas Konvensi Ramsar (The Convention on Wetlands of International Importance, especially as Waterfowl Habitat) yaitu perjanjian internasional untuk konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan.

  1


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


jesica oktavia 27 Juni 2019 - 11:58

permisi ya mau numpang promosi bo kelinci99 silahkan kunjungi WWWoKELINCIPOKER99oME

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: