Kisah Pulau Badul, Ujung Kulon Mencoba Bangkit Usai Tsunami

TrubusTravel
Yandi | Followers 0
09 Jan 2019   08:30

Komentar
Kisah Pulau Badul, Ujung Kulon Mencoba Bangkit Usai Tsunami

Pantai Pulau Badul (Foto : Yandi)

Trubus.id -- Pulau Badul, selain air lautnya yang jernih dan pantainya berpasir putih juga memiliki 'hutan mini' di salah satu ujungnya. Tempat ini biasa digunakan berteduh bagi wisatawan.

Pulau ini masuk ke dalamwilayah lahan konservasi  Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Tak hanya jernih, wisatawan bisa bermain pasir dan air laut di bibir pantainya. Bahkan, bisa snorkeling di dasar lautnya, sembari berfoto dengan patung badak bercula satu di dasar laut yang dangkal, atau melihat binatang laut hidup bebas di alamnya.

Salah satu pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ujung Kulon, Dandy, melalui perbincangan di aplikasi WhatsApp, bercerita kalau dia sempat mengajak 23 wisatawan domestik ke Pulau Peucang, pada Sabtu, 22 Desember 2018.

"Tujuan kita saat itu sebetulnya hanya Pulau Peucang dan explore sekitarannya saja, tidak ada agenda ke Pulau Badul" kata Dandy, saat berbincang tengah malam, Selasa (08/01/2019).

Dandy, sarjana di salah satu kampus di Kota Serang ini memilih kembali ke kampung halamannya di Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, untuk membangun daerahnya melalui wisata alam sekaligus melestarikannya.

Karena masih ada waktu senggang, dia mengajak turis domestik untuk singgah ke Pulau Badul, sekaligus satu jalur menuju perjalanan pulang. Namun, wisatawan hanya diperbolehkan menikmati keindahan Pulau Badul dari atas perahu.

Dia bercerita kalau hari itu, beberapa jam sebelum tsunami meluluh lantakkan kampung dan lokasi wisata ditempatnya, masih terlihat jelas keindahan alam di semenanjung Ujung Kulon, habitat alami badak bercula satu dan satwa liar lainnya.

Matahari terbenam di ufuk barat, berpadu dengan kejernihan air laut, di akuinya sangat indah kala itu. Cuaca cerah dan tenangnya ombak laut.

"Terlihat di Pulau badul ada banyak orang yqng berkemah, dan kitapun hanya bersapa lewat lambaian tangan, biarpun enggak kenal," ujarnya.

Sampailah dia di dermaga Sumur, sekitar pukul 18.30 wib, Sabtu 22 Desember 2018. Dandy dan 23 wisawatan lainnya pun berkemas-kemas dan segera menuju lokasi penginapan.

Tak ada tanda apapun malam itu, Ujung Kulon masih nampak indah dengan keasrian alam nya. Hanya dentuman Gunung Anak Krakatau (GAK) yang terdengar lebih nyaring malam itu, di anggap biasa oleh warga sekitar.

"Setelah itu tsunami datang dan menghancurkan semuanya. Rumah warga, kapal, tempat usaha, dan banyak korban tentunya. Termasuk yang ngecame di Pulau Badul. Dari banyaknya orang di sana yang selamat hanya tiga orang," jelasnya.

Pulau Badul, yang dulu hijau dengan peopohanan, kini telah hilang, nyaris tak tersisa. Hanya terlihat tumpukkan pasir, akibat diterjang ganasnya gelombang tsunami yang di duga berasal dari runtuhan material Gunung Anak Krakatau.

Dandy bersama anak muda di kampungnya dan Pokdarwis Ujung Kulon, tengah berusaha bangkit. Selain rumah tinggal mereka telah luluh lantak, ada beberapa anggota Pokdarwis yang menjadi korban.

Usai merapikan rumah tinggal dan membantu sesama korban tsunami Selat Sunda, dia bersama pemuda lainnya berjanji akan membangkitkan kembali wisata Ujung Kulon sekaligus melestarikan alamnya kembali.

"Terutama destinasi wisata yang mungkin sekarang sudah hancur, tapi nantinya akan menjadi destinasi bagus nantinya," harapnya.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: