Berisiko, Wisata Gunung Berapi Tetap Marak, Apa Sebabnya?

TrubusTravel
Ayu Setyowati | Followers 0
25 Des 2018   21:03

Komentar
Berisiko, Wisata Gunung Berapi Tetap Marak, Apa Sebabnya?

Wisata gunung berapi, ilustrasi (Foto : BookMundi)

Trubus.id -- Fenomena "wisata gunung berapi" membuat ribuan orang berusaha mendekati lokasi letusan gunung berapi untuk melihat, mendengar, dan merasakan langsung betapa panasnya suhu di dekat mulut kawah. Meski telah diperingatkan bahwa aktivitas tersebut berisiko bahaya, para wisatawan pencari sensasi ini seringnya tetap nekad mendekati mulut kawah. 

Terakhir laporan penelitian Royal Geographical Society memperingatkan tentang risiko yang makin meningkat akibat "pariwisata gunung berapi". Di sejumlah negara, seperti Islandia yang memiliki gunung berapi aktif, badan penanggulangan bencana harus bersaing dengan kedatangan wisatawan yang terus berduyun-duyun mendekati puncak gunung berapi yang sedang erupsi.

Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Royal Geographical Society dan ditulis oleh ahli geografi Universitas Cambridge, Amy Donovan, memperingatkan bahwa kehadiran pengunjung seperti itu dapat membahayakan bagi upaya penyelamatan. 

Pecandu gunung berapi

Mengutip BBC, Amy Donovan mengatakan orang-orang yang mendatangi lokasi di dekat bibir kawah itu terpesona oleh kekuatan unsur gunung berapi dan tertarik untuk mendapatkan pengalaman khusus.

"Anda dapat menghirup gas, mendengar suara-suara dari dasar bumi. Mereka ingin lebih dekat untuk merasakan kekuatan bumi," katanya.
Yang paling ekstrem, dia mengatakan apa yang disebut 'volcanophiles', kaum yang kecanduan gunung berapi, yang mengejar kawah-kawah gunung berapi yang sedang meletus di berbagai penjuru dunia.

Menurut Donovan, peningkatan pariwisata gunung berapi didorong oleh menjamurnya smartphone, yang membuat penggunanya bisa merekam aktivitas mereka dalam situasi yang amat dramatis.

Tetapi, menurutnya, mereka juga tidak menyadari bahaya yang mengintai dari atas gunung berapi. Ada yang terluka akibat terkena bongkahan batu atau bom lava. Belum lagi kemungkinan terpapar gas beracun yang tidak disadari.

Para wisatawan gunung berapi ini kemungkinan tidak memahami seberapa cepat letusan bisa berubah berbahaya atau bahwa ancaman lain seperti banjir lava bisa muncul secara tiba-tiba. 

Di Islandia, ada sekelompok turis yang melanggar peraturan dengan menyewa helikopter untuk mencoba mendarat di malam hari di dekat gunung berapi. Tahun 2010, dua orang turis tewas akibat mencoba menyeberangi gletser demi mencapai puncak gunung berapi.

Hasil penelitian terbaru Royal Geographical Society mengungkapkan pula bahwa tindakan para 'turis gunung berapi' itu membuat tim penyelamat frustasi  karena mereka mendatangi lokasi-lokasi yang sulit untuk evakuasi jika terjadi kecelakaan atau insiden.

Sementara industri pariwisata justru mendorong wisata gunung berapi, sehingga Donovan mengatakan hal itu merupakan tantangan berat bagi pihak berwenang ketika terjadi situasi darurat. "Banyak negara yang memiliki banyak gunung berapi aktif menghadapi dilema antara menarik wisatawan di satu sisi, sementara di sisi lain harus menjaga keamanan manusia. Ini sangat pelik" kata Donovan.
 
 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

3 Tips Libur Lebaran Supaya Kamu Tidak Boros

Thomas Aquinus   Bacpacker
Bagikan: