Kelamai, Cara Leluhur Warga Riau Mengawetkan Makanan Ringan

TrubusTravel
M Syukur | Followers 0
16 Des 2018   16:00

Komentar
Kelamai, Cara Leluhur Warga Riau Mengawetkan Makanan Ringan

Kelamai (Foto : Dinas Pariwisata Provinsi Riau.)

Trubus.id -- Galamai, makanan manis terbuat dari tepung ketan tak hanya identik dengan Sumatera Barat. Di Riau, khususnya Kabupaten Kampar, makanan ini juga menjadi ciri khas karena kedekatan kulturnya dengan provinsi tetangga itu. 

Pada zaman dahulu, makanan ringan tapi juga mengenyangkan kalau dikonsumsi dalam jumlah banyak ini, menjadi cara masyarakat membuat persediaan makanan untuk jangka panjang. Makanan ini juga menjadi hidangan wajib jika ada tamu.

Di Kabupaten Kampar, masyarakat ini lebih dikenal dengan kelamai. Kemasannya juga dibuat berbeda agar ketahanannya lebih lama. Mulai dari menggunakan daun rumbia ataupun kelapa yang sudah dijalin.

Baca Lainnya: Bolu Kemojo, Oleh-oleh Khas Pekanbaru yang Legit dan Enak

"Namun yang paling penting itu cara membuatnya, semakin matang adonannya makin tahan lama hingga sebulan biasanya," kata warga Kampar, Aisyah yang masih rajin membuat makanan ini sampai sekarang.

Dia menjelaskan, kelamai itu ada dua macam, yaitu kering dan basah. Yang basah, biasanya lebih berminyak agak lengket dan ketahanannya agak kurang dibandingkan yang kering.

Untuk yang kering, biasanya adonan yang sudah matang diletakkan ke wadah dari daun. Posisinya diletakkan lebih tinggi di mana bagian bawahnya dibuat agak renggang agar minyaknya keluar.

"Kalau yang kering ini tahan lama," sebutnya.

Bahan kelamai sendiri terdiri dari tepung ketan, santan kelapa, gula aren serta rempah seperti cengkeh hingga kayu manis. Makin besar ukuran yang ingin dibuat pasti menambah jumlah bahan.

Baca Lainnya: Salai Ikan, Teknik Mengawetkan Bahan Pangan yang Eksis Hingga Kini

"Biasanya menggunakan kuali besi karena tidak lengket. Apinya harus dari kayu bakar," sebutnya.

Untuk ukuran satu kilo bahan, pembuatannya tidak bisa dilakukan satu orang. Kesabaran tingkat tinggi menjadi modal utama karena begitu bahan masuk, mengaduknya harus dari awal agar santan tidak pecah.

"Stamina dan kekuatan yang penting. Makin ke arah matang, makin keras ngaduknya, makin berat," katanya.

Sampai sekarang, cara ini masih dijaga sebagian masyarakat mengawetkan panganan ringan tanpa pengawet bahan kimia.  

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: