Seluk Beluk Gudeg, dari Bekal Perang Pasukan Mataram Hingga Jadi Ikon Kuliner Jogja

TrubusTravel
Ayu Setyowati
15 Agu 2018   21:30 WIB

Komentar
Seluk Beluk Gudeg, dari Bekal Perang Pasukan Mataram Hingga Jadi Ikon Kuliner Jogja

Gudeg, makanan khas Jogja. (Elshinta)

Trubus.id -- Bicara tentang kuliner Jawa, ada banyak hidangan yang bisa memanjakan lidah. Baik di Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, masing-masing memiliki kuliner khas yang tak hanya populer di tempat asalnya, tapi juga seantero Indonesia, bahkan di seluruh dunia.

Nah, gudeg dengan rasa manis yang nendang ini merupaka makanan tradisional sekaligus ikon kuliner kota Yogyakarta yang telah mendunia. Potensi besarnya tak bisa diremehkan begitu saja.

Memang, belum jelas kebenaran soal bagaimana awal kemunculan gudeg. Namun, diungkapkan oleh Murdijati Gardjito, profesor yang menjabat sebagai peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, sekaligus penulis buku berjudul Gudeg Yogyakarta, sejarah kemunculan gudeg bersamaan dengan dibangunnya kerajaan Mataram Islam di Alas Mentaok, daerah Kotagede sekitar abad 16.

Baca Lainnya : Mangku Kopi, Seruput Kopi Nusantara dengan Keramahan Jogja

Waktu itu, menurut Murdijati, para prajurit Kerajaan Mataram membongkar hutan belantara untuk membangun peradaban yang kini terletak di kawasan Kotagede. Ternyata, di hutan tersebut terdapat banyak pohon nangka dan kelapa.

"Para prajurit yang jumlahnya ratusan itu berusaha memasak nangka dan kelapa. Karena jumlah mereka sangat banyak, nangka dan kelapa dimasak di dalam  ember besar terbuat dari logam. Pengaduknya pun besar, seperti dayung perahu," lanjut penulis buku berjudul 'Gudeg, Sejarah dan Riwayatnya' itu.

Proses memasak gudeg disebut hangudek alias mengaduk. Dari hangudek, terciptalah makanan yang kemudian disebut gudeg.  Dari makanan tidak sengaja yang jadi bekal para prajurit Mataram ketika diperintahkan oleh Sultan Agung untuk menggempur Batavia pada 1628, gudeg kini menjadi ikon sekaligus identitas Yogyakarta.

Baca Lainnya : Mencicipi Kuliner Khas Rusia di Kediaman Duta Besar

Sayang, kisah ini belum bisa ditemukan rujukannya. Sama seperti cerita komentar suami (Eropa) pada masakan istrinya (Jawa) dengan pujian, good dek yang kemudian secara bahasa, konon berubah menjadi gudeg.

Magnet Wisata

Kini, ketenaran gudeg melebar ke masyarakat luas.

"Masyarakat melihat gudeg sebagai makanan yang fleksibel. Bisa dikombinasikan hanya dengan temp dan tahu. Bahkan, hanya gudeg dengan areh (kuah) saja sudah bisa untuk makan. Warga yang punya uang bisa menyantapnya dengan telur atau ayam," papar Murdijati.

Baca Lainnya : Dua Putra dan Menantu Jokowi Ramaikan Bisnis Kuliner di Medan

Gudeg Jogja, mengutip Dyah Ayu Indira Hapsari dalam The Impact of Cultural Tourism on Economic Development: The Case Study of Yogyakarta, Indonesia, merupakan salah satu magnet bagi para pelancong, khususnya dalam kegiatan wisata kuliner. Menurutnya, gudeg adalah identitas kultural Yogjakarta dan budaya Jawa secara keseluruhan.

Itulah mengapa, sepiring gudeg dengan beragam lauk yang bisa dipilih, selalu menempati ruang khusus di lambung warga Yogyakarta. Seporsi gudeg selalu bisa dinikmati baik untuk sarapan, makan siang, hingga makan malam. [DF]


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

7 Jenis Roti di India dan Mengapa Mereka Disebut Unik

Kuliner   19 Jan 2020 - 16:17 WIB
Bagikan: